.

Modul Materi

Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM)


"Tata Bahasa dan Penulisan Bahasa Indonesia 1"

Progress kamu ada di level 11


.

Modul



Materi Dasar-dasar Keterampilan Menulis


Frasa merupakan kumpulan kata berarti tanpa subjek dan predikat lengkap, berfungsi menambah makna dengan peran gramatikal yang berbeda dan dapat disisipi.


Jenis frasa dibedakan berdasarkan distribusi unsur menjadi eksosentris, yang tidak memiliki perilaku sintaksis sama dengan komponennya, dan endosentris, yang perilaku sintaksisnya sama dengan salah satu bagiannya.

  • Eksosentris: Tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan komponennya. Contohnya, frasa "di bawah" dalam kalimat "Buku itu di bawah meja." Frasa ini tidak berperilaku seperti kata "bawah" atau "di" secara terpisah, karena bersama-sama mereka berfungsi sebagai preposisi, tidak seperti komponen individunya.
  • Endosentris: Perilaku sintaksisnya sama dengan salah satu bagiannya. Contoh, frasa nominal "rumah baru" dalam kalimat "Mereka membeli rumah baru." Frasa ini berperilaku seperti nomina karena intinya adalah "rumah," yang merupakan nomina.


Berdasarkan kedudukan, frasa dibagi menjadi setara, dimana semua unsur setara, dan bertingkat, dengan kedudukan unsur tidak setara dan memiliki inti frasa.

  • Setara: Semua unsur setara, misalnya dalam frasa koordinatif "ayah dan ibu" dalam kalimat "Ayah dan ibu pergi ke pasar." Di sini, "ayah" dan "ibu" memiliki kedudukan yang setara dalam frasa.
  • Bertingkat: Kedudukan unsur tidak setara dan memiliki inti frasa. Contohnya, frasa adjektival "sangat cerdas" dalam kalimat "Anak itu sangat cerdas." "Cerdas" adalah inti, sedangkan "sangat" berfungsi sebagai pembatas yang menentukan tingkat kecerdasan, sehingga kedudukannya tidak setara.


Jenis frasa juga ditentukan berdasarkan kelas kata pada inti, meliputi frasa preposisional, nominal, verbal, adjektival, dan adverbial.

  • Preposisional: Terdiri dari preposisi sebagai inti. Contoh: "di atas meja" dalam "Buku itu ada di atas meja." "Di" adalah preposisi yang berfungsi sebagai inti frasa.
  • Nominal: Intinya adalah nomina atau kata benda. Contoh: "guru besar" dalam "Dia bertemu dengan guru besar tersebut." "Guru" adalah inti frasa nominal.
  • Verbal: Intinya adalah verba atau kata kerja. Contoh: "makan malam" dalam "Kami akan makan malam sekarang." "Makan" adalah inti frasa verbal.
  • Adjektival: Intinya adalah adjektiva atau kata sifat. Contoh: "sangat indah" dalam "Pemandangan itu sangat indah." "Indah" adalah inti dari frasa adjektival.
  • Adverbial: Intinya adalah adverbia. Contoh: "sangat cepat" dalam "Dia berlari sangat cepat." "Cepat" adalah inti dari frasa adverbial, dengan "sangat" sebagai pembatas yang memodifikasi intinya.


Menentukan pola frasa melibatkan identifikasi inti frasa dan pembatas, kelas katanya, dan hubungan antara inti dan pembatas untuk mengidentifikasi posisi atau hubungan spesifik.


Struktur kalimat meliputi unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan, dengan posisi dan fungsi masing-masing dalam kalimat.

  • Struktur Kalimat: Struktur kalimat dasar meliputi subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Contoh kalimat yang lengkap adalah "Sinta (S) memakan (P) apel (O) di taman (Ket)." Subjek melakukan tindakan, predikat adalah tindakan itu sendiri, objek menerima tindakan, dan keterangan memberi informasi tambahan.


Kalimat aktif dan pasif dibedakan berdasarkan subjek melakukan atau menerima tindakan, dengan perbedaan imbuhan yang digunakan.

  • Aktif: "Pekerja (S) membangun (P) rumah (O)." Subjek melakukan tindakan.
  • Pasif: "Rumah (S) dibangun (P) oleh pekerja (Pel)." Subjek menerima tindakan. Perbedaan imbuhan "di-" pada "dibangun" menunjukkan kalimat pasif.


Perluasan kalimat dilakukan dengan menambahkan unsur keterangan untuk memperluas kalimat dasar yang minimal terdiri dari subjek dan predikat.

  • Perluasan Kalimat: Kalimat dasar "Anak itu berlari." dapat diperluas menjadi "Anak itu berlari (P) dengan cepat (Ket) di lapangan (Ket) setiap sore (Ket)." Penambahan unsur keterangan memperluas informasi tentang tindakan.


Paragraf mendefinisikan judul sebagai gambaran umum isi teks dan simpulan sebagai pendapat akhir berdasarkan informasi sebelumnya.

  • Judul: Sebuah teks tentang polusi udara mungkin memiliki judul "Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan" yang singkat, menarik, dan mencerminkan isi teks.
  • Simpulan: Untuk teks yang sama, simpulannya bisa "Mengurangi polusi udara esensial untuk menjaga kesehatan masyarakat." Ini merangkum ide pokok dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi di teks.


Judul efektif harus menarik, singkat, berbentuk frasa bukan klausa, dan mencerminkan isi teks secara keseluruhan.

  • Judul Efektif: Dalam membuat judul untuk teks tentang konservasi air, judul seperti "Menghemat Air, Melindungi Masa Depan" efektif karena singkat, menarik, dan mencerminkan isi teks yang mengajak pembaca untuk beraksi dalam konservasi air.


Menentukan judul teks melibatkan pencarian kalimat utama tiap paragraf, penggabungan ide pokok, dan pembuatan judul yang menarik berdasarkan tema teks.

  • Jika teks membahas berbagai manfaat bersepeda bagi kesehatan, judul dapat ditentukan dengan menggabungkan ide pokok seperti "Bersepeda untuk Kesehatan: Manfaat dan Kiat". Judul ini mencakup tema keseluruhan teks dengan menarik dan informatif.


Simpulan paragraf ditentukan dari ide pokok, perhatian pada kalimat terakhir, dan hubungan sebab akibat antar kalimat.

  • Dalam paragraf tentang pentingnya pendidikan karakter di sekolah, simpulannya mungkin "Pendidikan karakter fundamental dalam membentuk generasi muda yang berintegritas." Ini menarik kesimpulan berdasarkan ide pokok dan menegaskan pentingnya topik dengan memperhatikan hubungan sebab akibat.

Kalimat efektif dicirikan oleh struktur S-P yang sederhana, hemat kata, paralelisme, penggunaan kata baku, dan kejelasan tanpa ambigu.

  • Contoh kalimat efektif adalah "Dia (S) memenangkan (P) lomba lari." Ini sederhana, langsung pada pokok bahasan, menggunakan struktur S-P, hemat kata, dan jelas tanpa ambigu.


Kata baku adalah kata yang sesuai aturan bahasa Indonesia, ditemukan dalam KBBI, dan sering digunakan dalam konteks formal.

  • Contoh kata baku adalah "analisis" (bukan "analisa"), yang sesuai dengan aturan bahasa Indonesia dan dapat ditemukan dalam KBBI.


Tips menghafal kata baku meliputi membaca, latihan, mencatat kata baku, dan berlatih berpidato dengan kata baku yang telah dicatat.

  • Membaca: Baca buku atau artikel yang menggunakan bahasa Indonesia baku.
  • Latihan: Buat kalimat sendiri menggunakan kata baku.
  • Mencatat Kata Baku: Catat kata-kata baku yang baru ditemukan.
  • Berlatih Berpidato: Gunakan kata-kata baku yang telah dicatat dalam pidato atau presentasi.


Kata tidak baku adalah kebalikan dari kata baku, lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan cenderung lebih santai.

  • Contoh kata tidak baku adalah "kalo" (seharusnya "kalau" atau "jika"), sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.


Tanda koma ditempatkan setelah salam pembuka dan penutup serta nama jabatan dalam surat, memisahkan nama orang dan gelar akademis, digunakan sebelum angka desimal dan untuk mengapit keterangan tambahan atau aposisi, serta di belakang keterangan awal kalimat untuk menghindari salah pengertian.

  • Setelah salam pembuka: "Dear John,"
  • Nama jabatan: "Presiden Direktur, PT Maju Mundur."
  • Memisahkan nama dan gelar: "Dr. Ali, M.B.A."
  • Sebelum angka desimal: "Beratnya 75,5 kilogram."
  • Mengapit keterangan tambahan: "Ani, yang baru lulus, segera mendapat pekerjaan."


Tanda titik koma berfungsi sebagai pengganti kata hubung dalam kalimat majemuk setara, dalam perincian berupa frasa verbal, dan untuk memisahkan bagian perincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

  • Pengganti kata hubung: "Dia ingin berangkat; dia terlambat."
  • Dalam perincian frasa verbal: "Rencana hari ini: bangun pagi; sarapan; pergi ke sekolah."
  • Memisahkan bagian perincian: "Kami membeli banyak hal: buku, pensil, dan penghapus; tas; dan sepatu."


Tanda titik dua digunakan setelah pernyataan lengkap yang diikuti perincian atau penjelasan, sesudah kata atau frasa yang memerlukan pemerian, dalam naskah drama menunjukkan pelaku percakapan, untuk memisahkan (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat, (c) judul dan subjudul, serta (d) nama kota dan penerbit, juga digunakan untuk memisahkan waktu dalam format jam:menit:detik, dan untuk menuliskan rasio serta perbandingan dalam bentuk angka.

  • Sebelum perincian: "Kebutuhan harian meliputi: beras, gula, dan garam."
  • Dalam naskah drama: "Ali: Bagaimana kabarmu hari ini?"
  • Memisahkan nama kota dan penerbit: "Yogyakarta: Penerbit Andi."
  • Untuk waktu: "Pertemuan dimulai pada pukul 14:30:15."
  • Menuliskan rasio: "Rasio siswa terhadap guru adalah 20:1."

Selengkapnya tentang materi dasar menulis dalam Bahasa Indonesia ini dapat diakses di website ini


Type

Bentuk pertanyaan yang biasanya muncul di SNBT


  • Penulisan kata yang salah terdapat pada kalimat nomor …?
  • Kata "erat kaitannya" dalam kalimat (5) seharusnya …?
  • Kalimat (2) perlu disempurnakan dengan cara …?
  • Kata yang harus dihilangkan pada kalimat (4) adalah …?
  • Pernyataan yang paling tepat untuk melengkapi kalimat (6) adalah …?
  • Penggunaan tanda koma yang salah terdapat pada kalimat …?
  • Pernyataan yang paling tepat untuk melengkapi kalimat (2) adalah …?
  • Kalimat manakah yang paling tepat sebagai kalimat inti nomor (1)?
  • Kalimat manakah yang paling efektif sebagai hasil penggabungan kalimat (3) dan (4)?
  • Kata yang paling tepat menggantikan kata "campuran" dalam kalimat (8) adalah …?
Example

Tipe Soal yg Berpotensi Muncul


Desentralisasi diharapkan bisa [...] daerah untuk [...] pendidikan penduduk dan menciptakan lapangan kerja di daerah sehingga orang tidak perlu bermigrasi ke Jawa.

Pembahasan Soal Latihan 🚀

Pasangan kata yang paling sesuai untuk mengisi tempat kosong pada kalimat tersebut adalah "meningkatkan-memacu". Kalimat lengkapnya menjadi: "Desentralisasi diharapkan bisa meningkatkan kemampuan daerah untuk memacu pendidikan penduduk dan menciptakan lapangan kerja di daerah sehingga orang tidak perlu bermigrasi ke Jawa." Ini karena "meningkatkan" mengacu pada upaya untuk memperbesar atau memperbaiki kapasitas atau kualitas, sementara "memacu" mengacu pada upaya untuk mendorong atau memotivasi tercapainya sesuatu dengan lebih cepat atau efisien. Dalam konteks kalimat ini, desentralisasi bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas daerah dalam memacu (atau mendorong) peningkatan pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

Plain

Petunjuk soal


Untuk menjawab soal ini, mari kita perhatikan struktur kalimat dan makna yang ingin disampaikan.

  1. Struktur Kalimat dan Makna: Kalimat tersebut membahas harapan terhadap desentralisasi, di mana desentralisasi diharapkan dapat melakukan sesuatu yang positif. Ini mengindikasikan adanya suatu aksi yang diharapkan dapat memberikan hasil positif, yaitu "menciptakan lapangan kerja" dan "memacu pendidikan".
  2. Pemilihan Kata Kerja: Dalam konteks ini, kita perlu memilih kata kerja yang mengindikasikan aksi yang dilakukan oleh subjek (desentralisasi) terhadap objek (pendidikan penduduk dan lapangan kerja). Kata "ditingkatkan" dan "dipacu" adalah bentuk pasif, yang menunjukkan sesuatu yang terjadi pada objek, bukan yang dilakukan oleh subjek. Sementara itu, "meningkatkan" dan "memacu" adalah bentuk aktif, yang lebih sesuai karena menunjukkan aksi yang dilakukan oleh subjek.
  3. Logika Kalimat: Desentralisasi diharapkan bisa "meningkatkan" kemampuan daerah dalam aspek tertentu (dalam hal ini, pendidikan penduduk dan penciptaan lapangan kerja), yang berarti memberikan dorongan atau pengaruh positif agar daerah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam aspek-aspek tersebut. "Memacu" berarti mendorong atau merangsang, yang dalam konteks ini, bisa diinterpretasikan sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas atau kuantitas sesuatu.
Checklist

Pilih benar/salah berdasarkan pernyataan yang diberikan

Hack

Prompt Gen AI - ChatGPT , Gemini AI, dll...


[PASTE SOAL DI SINI]

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Topik soal di atas merupakan soal Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) yang tipe soalnya akan diujikan pada SNBT 2024. Buatkan latihan soal (kuis) sebanyak 1 soal berbentuk pilihan ganda 5 opsi (Multiple Choice) yang serupa bentuknya persis seperti teks di atas tetapi dengan konteks soal yang berbeda. Setelah itu, berikan kunci jawaban beserta masing-masing pembahasan soalnya dengan lengkap & komprehensif.


Berikut merupakan ketentuannya:

1. Level kesulitan: Sedang

2. Tujuan Soal: Memacu pemahaman (active recall)

3. Rumuskan pertanyaan dengan jelas dan ringkas

4. Pertanyaan harus relevan dengan materi yang telah disajikan sebelumnya.

5. Hindari memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.

Add
Tab 8

TANYA TUTOR

Tanyakan langsung kepada tutor dengan cara mengisi form tiket di bawah ini:

.

Discussion Forum

Halaman ini berisi jawaban dari pertanyaan yang ditujukan ke admin melalui form di atas tentang materi yang berkaitan dengan modul ini.

------------------------------------------------

  • ~ Anonymous

    Kak bisa tolong bantu kerjain ini?

  • Wan's - Tutor BCB Academy

    Silakan pap soalnya dengan cara tulis semua beserta pilihan gandanya ke sini yaa, boleh dalam bentuk link drive juga. Nanti akan tutor periksa untuk membantu kakak cara mengerjakan soalnya. Terima kasih.

.

Perhatian!


Tutor akan memberikan jawaban pada saat jam kerja efektif (08.00 - 20.00 WIB) maksimal 24 jam yaa. Apabila pertanyaan terlalu banyak, maka akan dijawab di hari berikutnya. Sebelum bertanya, silakan cek di bagian diskusi di atas, apabila ada pertanyaan yang serupa, tutor hanya akan menjawab 1x yaa.


Terima kasih dan semangat belajarnya!


~ Wan's



.